Friday, February 25, 2011

Makam Raja-raja Imogiri: Dari Nuansa Angker Sampai Menumbuhkan Semangat Spiritual Rohani Masyarakat Jawa.

Makam Raja-raja Imogiri:

Dari nuansa angker sampai menumbuhkan semangat spiritual rohani masyarakat Jawa.

Makam merupakan tempat terakhir dimana manusia dibaringkan jasadnya untuk selama-lamanya. Karena menjadi tempat terakhir inilah, maka sebuah lokasi makam tidak sembarang digunakan. Sebagai contoh makam para Sultan atau Raja-raja di Imogiri penuh dengan nuansa angker atau spiritual/mistis. Sebuah mitos mengatakan pemilihan lokasi makam ini atas petunjuk Sunan Kalijaga yang memerintahkan kepada Sultan Agung untuk membuat makam di lokasi perbukitan. Dari mitos yang berkembang inilah melegitimasikan sebuah cerita menjadi unsur yang layak dipercaya oleh masyarakat Jawa. Dimana letak nuansa angker dan spiritual/mistis? Dua unsur ini harus dibedakan dalam konteks budaya Jawa.

Angker lebih menunjukkan sebuah tempat yang seram karena berada di lokasi makam ataupun daerah yang tidak tersentuh oleh manusia. Yang biasanya dikaitkan dengan makhluk halus dan sebangsanya yang mendiami wilayah tersebut. Sedangkan kultur budaya Jawa meletakkan nuansa mistik spiritual sebagai hukum, yang tidak dapat dijelaskan secara rasional dan memengaruhi pola perilaku kehidupan masyarakat dengan segala ekspresinya. Namun menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Mistik adalah hal-hal gaib yang tidak terjangkau akal manusia, tetapi ada dan nyata. Jadi masyarakat Jawa masih cukup percaya dan meletakkan 2 unsur tersebut dalam alam pikiran dan kehidupan mereka. Apakah angker dan mistik ada kaitannya? Mungkin 2 hal ini saling mendukung keberadaan sebuah tempat keramat ataupun lokasi makam yang dianggap keramat. Atau bisa jadi kembali pada pola pikir masyarakat Jawa dalam memosisikan sebuah tempat keramat/makam di tengah-tengah kehidupan modern ini. Apa yang sebenarnya melatarbelakangi masyarakat Jawa masih tetap mempercayai dan menjadikan 2 unsur ini begitu penting?



Dalam pola kehidupan masyarakat Jawa pada umumnya, tidak pernah terlepas dari alam sekitar. Dari alam inilah masyarakat mampu bertahan hidup dan mengembangkan hidupnya karena memerolehnya dari alam. Oleh karena itu alam menjadi bagian yang tidak pernah dipisahkan dalam kehidupan masyarakat. Sehingga masyarakatpun menganggap alam menjadi bagian dari keseharian dalam memenuhi kebutuhan. Tindakan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan ini disertai dengan ungkapan syukur atas segala kebutuhan yang sudah terpenuhi. Maka dicarilah media atau sarana yang dianggap layak menjadi tempat berbagi kehidupan. Yaitu menggunakan sesajen dan mencari tempat untuk membuktikan baktinya terhadap alam.


Menurut Slamet Muljana dalam bukunya inti kehidupan keagamaan di Indonesia sejak dahulu kala ialah pemujaan arwah para leluhur. Pemujaan arwah leluhur itu sendiri tidak merupakan agama bagi rakyat, tetapi merupakan bagian (unsur) penting dalam ibadahnya. Pemujaan arwah leluhur adalah sisa dari kehidupan keagamaan dari zaman purba, yang masih bertahan dalam sejarah hingga sekarang. Jadi agama apapun yang masuk ke Indonesia akan diwarnai dengan anasir-anasir kuno pemujaan arwah leluhur.


Pemujaan arwah leluhur ini terus berkembang seiring dengan perubahan pola pikir masyarakat yang menempatkan yang ”bercikal bakal” menjadi sosok dewa yang dipuja. Karena peralihan agama di masa itu, menyebabkan banyaknya lokasi pemujaan yang terbengkelai, sehingga masyarakat mulai mengalihkan ke lokasi atau tempat-tempat yang dianggap keramat. Artinya memberikan sesajen terhadap roh halus yang menghuni lokasi tersebut. Sehingga menurut kepercayaan masyarakat sebuah desa akan terlindungi dari wabah atau bencana, karena sudah memberikan sesajen. Setelah agama Islam masuk, pertanyaannya mengapa praktek-praktek tersebut masih bisa bertahan?


Kalangan masyarakat Jawa khususnya memunyai pola kehidupan yang tidak lepas dari tradisi budaya prasejarah, Hindu-Budha dan Islam. Hal ini cukup beralasan karena Islam yang menyebar ke Indonesia merupakan Islam sufi yang berorientasi ke mistik. Islam sufi cukup terbuka dengan unsur-unsur di luar Islam. Sidney Jones berpendapat hanya Islam dalam bentuk mistik ini yang cocok menyebar di Indonesia. Ada kesejajaran dalam berpikir antara Hindhu Jawa dengan Islam yang menurut Geertz menyebutkan bahwa Sunan Kalijaga sebagai pahlawan kebudayaan Jawa yang meletakkan model varian Islam Jawa yang sinkretik


Islam Jawa dalam hal ini memberi ruang bagi praktek kehidupan yang dilakukan oleh masyarakat jawa. Seperti mengunjungi kuburan para leluhur merupakan proses pembentukan dari pemujaan arwah. Dalam bulan tertentu masyarakat akan mendatangi kuburan untuk memohon restu dan berkat bagi yang masih hidup. Masyarakat akan berziarah mengunjungi tempat keramat dan memohon kepada arwah leluhur agar mengabulkan permintaannya.


Di alam zaman sekarang ziarah menjadi cara membaktikan diri kepada para leluhur. Itu ciri khas dan keunikan masyarakat yang berkembang.dengan mengikuti serta menyesuaikan diri di zaman sekarang. Lagi pula tidak ada salahnya apabila makam para leluhur dihormati karena jasanya ataupun peran sertanya di tengah masyarakat disaat masih hidup. Contoh dari bukunya Slamet Muljana adalah para wali yang dianggap sebagai manusia yang luar biasa, karena kedekataannya terhadap kehidupan Ilahi. Begitu juga dengan para Sultan yang bertahta di tanah Jawa yang punya peran cukup penting dalam pembentukan masyarakat Jawa. Maka di makam Imogiri inilah masyarakat menumpahkan isi hatinya agar dengan harapan kehidupannya akan lebih baik. Tentunya perlu didukung dengan nuansa yang membantu terkabulnya permintaan. Nuansa ini didapat dengan melakukan ”nenepi” ziarah dengan laku batin dan rendah hati agar semangat spiritual rohani bersatu dengan semangat para leluhur. Jadi, makam para Sultan bisa menjadi pusat menggali semangat spiritualitas rohani bagi masyarakat yang peduli dengan jasa para Sultan di zamannya bukan hanya nuansa angkernya.

Adolf Nugroho