Sunday, February 27, 2011

Kritikan Tulisan Soe Hok Gie tentang Keterlibatan Musso “Peristiwa Madiun 1948″

“Sesudah upacara yang pendek di Istana negara itu, para tamu dipersilahkan masuk ke kamar Bung Karno. Pak Musso di sebuah kursi, tidak diperkenankan masuk ke dalam kamar Bung Karno. Ia ditarik oleh pimpinan PKI duduk sebuah kursi panjang di sebelah Bung Karno. Perbicaraan itu mulai melunak dan berjalan dengan seksama dengan sedikit canda dan serius. Bung Karno menceritakan pada pada Soeripno tentang pergaulannya dengan Pak Musso di jaman yang lampau. Ia lalu bertutur : ” Musso ini dari dulu memang jago. Ia yang paling suka berkelahi, Jago pencak, suka bermain alat-alat musik, dan kalau berpidato ia akan menyincing lengan bajunya”. Bung Karno dengan panjang lebar mengutarakan riwayat pergaulannya dengan Pak Musso. Bung Karno pun akhirnya meminta Pak Musso untuk membantu negara dan melancarkan revolusi. Pak Musso dengan lantang berucap ” Itu sudah kewajiban saya. Ik kom hier om orde te scheppen”.

Sejarah memang lucu, Pak Musso akhirnya melancarkan revolusi di dalam revolusi Indonesia. Sesudah berpeluk-pelukkan dengan bercucuran air mata di istana presiden, 37 hari kemudian Musso berpidato kepada penjual-penjual romusha, dengan susah untuk dimengerti dia berucap “ Ik kom hier om orde te scheppen (Saya kemari untuk membereskan)”.


Dari tulisan diatas dalam buku (orang-orang di persimpangan kiri jalan) yang merupakan skripsi Soe Hok Gie, sekiranya saya mengkritisi bahwa Gie memjelaskan keterkaitannya antara Musso yang dianggap sebagai dalang Peristiwa Madiun 1948 dengan Presiden Soekarno, sebagai kawan sejawat yang sudah menghilang karena Pak Musso berguru di Rusia menjadi aktor penting di organisasi PKI Internasional. Musso yang datang sebagai “ Juru selamat” diterima dengan tangan terbuka oleh Presiden Soekarno, tapi dalam penyampaian kata dalam bahasa Belanda “ Ik kom hier om orde te scheppen (Saya kemari untuk membereskan)”, seakan terasa rancu. Apa benar Musso datang untuk menyelamatkan negara Indonesia dengan cara me-Revolusi dengan motto Jalan Baru Untuk Republik Indonesia. Apa dibalik semua ini Musso memanuver dengan jalan Revolusi dengan keadaan Indonesia yang carut marut pada sekitaran tahun 1948, setelah Indonesia merdeka. Sampai sekarang pun masih menjadi misteri bagi sejarah itu sendiri dengan keterlibatan Musso di peristiwa “Peristiwa Madiun ” 1948.





sumber Foto


(http://1.bp.blogspot.com/_Hj2SkZBtULk/TKh1UJv6YjI/AAAAAAAAABQ/Pm-29AipSaE/s1600/g-3.jpg)

Priya Purnama